Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan Senin (22/6/2026) setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi global. Penutupan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan memperkuat sentimen kenaikan harga.
Mengutip Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka sebagai acuan internasional naik 54 sen atau 0,67 persen menjadi USD81,11 per barel. Bahkan, selama perdagangan intraday, Brent sempat menyentuh level tertinggi di USD82,30 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk kontrak Juli menguat USD2,02 atau 2,64 persen menjadi USD78,62 per barel menjelang berakhirnya masa kontrak pada Senin sore.
Untuk kontrak Agustus yang lebih aktif diperdagangkan, harga WTI juga naik USD1,43 menjadi USD77,28 per barel.
Data pelayaran internasional menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan pada Minggu setelah Iran mengumumkan penutupan kembali jalur tersebut. Teheran menyatakan langkah itu merupakan respons terhadap dugaan pelanggaran kesepakatan damai sementara oleh Amerika Serikat dan Israel.
Penutupan Selat Hormuz kembali menegaskan pentingnya jalur tersebut bagi pasar energi global. Kawasan ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke berbagai negara konsumen di dunia.
Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, menilai Iran kemungkinan akan terus memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tawar strategis dalam menghadapi tekanan internasional.
“Iran kemungkinan akan terus mencari alasan untuk menghambat arus pelayaran di Selat Hormuz karena itu masih menjadi satu-satunya daya tawar utama mereka dalam jangka menengah,” ujar Kavonic.
Selain faktor distribusi energi, pasar juga mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang masih diliputi ketidakpastian. Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman serangan terhadap Iran di tengah berlangsungnya pembicaraan awal dalam kerangka kesepakatan damai sementara.
Di saat bersamaan, Wakil Presiden AS JD Vance melakukan pertemuan dengan pejabat Iran untuk memulai tahap awal negosiasi lanjutan. Namun, pemerintah Iran menilai Washington belum sepenuhnya menjalankan komitmen untuk membantu menghentikan konflik yang masih berlangsung di Lebanon.
Ketegangan semakin meningkat setelah serangan Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang pada Sabtu. Insiden tersebut terjadi hanya sehari setelah gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah mulai diberlakukan.
Meski sentimen geopolitik mendorong harga minyak naik, pasar juga masih memperhitungkan potensi tambahan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang dapat membatasi kenaikan lebih lanjut.
Pada pekan sebelumnya, harga minyak sempat terkoreksi lebih dari delapan persen akibat ekspektasi meningkatnya pasokan global. Sentimen tersebut muncul setelah adanya pelepasan sejumlah kargo minyak yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk serta peluang pelonggaran sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Iran.
Kepala National Iranian Oil Company, Hamid Bovard, mengungkapkan bahwa lebih dari 25 juta barel minyak Iran berhasil melewati blokade virtual sejak awal pekan lalu.
Selain Iran, sejumlah negara produsen minyak di kawasan Timur Tengah juga mulai meningkatkan pasokan. Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dilaporkan menawarkan volume minyak yang lebih besar kepada pelanggan dalam beberapa hari terakhir.
Irak bahkan berencana meningkatkan produksi minyak mentah secara bertahap hingga mencapai 4,2 juta hingga 4,3 juta barel per hari. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan pasokan di pasar global.
Saat ini, pelaku pasar masih menimbang dua faktor utama yang saling berlawanan. Di satu sisi, penutupan Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak dunia. Namun di sisi lain, bertambahnya pasokan dari negara-negara produsen utama berpotensi meredam tekanan kenaikan harga.
Dengan kondisi tersebut, arah pergerakan harga minyak dalam jangka pendek diperkirakan akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
