Harga minyak melonjak pada perdagangan awal pekan, Senin (14/9/2026), setelah serangan lanjutan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dan serangan baru di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak di Timur Tengah.
Mengutip Investing, kontrak berjangka Brent sempat melonjak 3,5 persen ke USD108,41 per barel sebelum sedikit turun ke USD107,51 per barel. Sementara kontrak berjangka WTI naik USD3,15 atau 3,15 persen menjadi USD103,20 per barel.
Kenaikan harga minyak terutama dipicu serangkaian serangan Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap sejumlah target di Arab Saudi dan kawasan Bab el-Mandeb. Serangan sebelumnya juga menyasar kilang, terminal bahan bakar Aramco, fasilitas energi, bandara, serta kapal.
Arab Saudi bahkan menutup jalur pipa Timur-Barat setelah serangan lanjutan tersebut. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran karena jalur ekspor alternatif melalui wilayah barat menjadi semakin terbatas apabila situasi di Selat Hormuz kembali memburuk.
Analis ANZ menilai perkembangan tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak sepanjang pekan ini. Pasar juga semakin khawatir setelah pertemuan regional antara Iran dan negara-negara Teluk terkait Selat Hormuz ditunda tanpa batas waktu yang jelas.
Penundaan pertemuan yang sebelumnya diharapkan membuka peluang diplomasi membuat risiko gangguan pasokan tetap tinggi. Arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga telah turun jauh dibandingkan tingkat sebelum konflik akibat kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
