Harga emas dunia masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan ini seiring dominasi sentimen bearish yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kombinasi faktor teknikal dan fundamental membuat peluang pelemahan harga logam mulia tersebut masih terbuka, terutama dalam jangka menengah hingga panjang.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan analis Geraldo Kofit, pergerakan XAU/USD pada timeframe mingguan masih menunjukkan struktur tren turun yang kuat. Tekanan jual kembali terlihat pada awal sesi perdagangan, menandakan dominasi pelaku pasar yang melakukan aksi jual masih cukup besar.
“Secara teknikal, harga emas masih bergerak dalam pola downtrend yang konsisten baik pada timeframe daily maupun weekly. Kondisi ini mengindikasikan setiap kenaikan yang terjadi sejauh ini masih cenderung bersifat sementara dan belum cukup kuat untuk mengubah arah tren utama yang masih menurun,” ujar Geraldo dalam analisis hariannya, Rabu (10/6/2026).
Support USD4.096 Jadi Target Penurunan Terdekat
Menurut Geraldo, pelemahan harga emas saat ini berpotensi menjadi bagian dari kelanjutan secondary trend bearish yang membawa harga menuju area support lebih rendah.
Selama struktur tren turun masih terjaga dan belum muncul sinyal pembalikan arah yang valid, peluang koreksi lebih dalam masih perlu diwaspadai oleh investor maupun trader.
Dalam proyeksi teknikalnya, area support pertama berada di kisaran USD4.096 per troy ons. Level tersebut menjadi target terdekat yang berpotensi diuji apabila tekanan jual terus berlanjut.
Jika support tersebut gagal bertahan, harga emas berpeluang melanjutkan penurunan menuju area support berikutnya di sekitar USD3.884 per troy ons.
Sinyal pelemahan juga tercermin dari indikator stochastic yang masih bergerak di area oversold atau jenuh jual. Meski kondisi tersebut kerap menjadi sinyal awal potensi rebound, hingga saat ini belum terdapat konfirmasi kuat yang menunjukkan tren bearish telah berakhir.
“Dengan kata lain, momentum bearish masih mendominasi dan belum ada konfirmasi tren turun telah berakhir,” jelas Geraldo.
Dolar AS dan Yield Obligasi Jadi Beban Emas
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih berasal dari penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury Yield.
Penguatan dolar membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi permintaan terhadap logam mulia dan memberikan tekanan pada harga.
Selain itu, tingginya yield obligasi AS juga meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Menurut Geraldo, pasar saat ini masih menilai Federal Reserve belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk segera memangkas suku bunga acuan.
“Selama data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan kondisi yang relatif solid, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi, ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi tetap bertahan,” katanya.
Harapan bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama memberikan dukungan terhadap dolar AS dan menjaga yield obligasi tetap berada pada level tinggi. Situasi tersebut menjadi faktor yang kurang menguntungkan bagi pergerakan harga emas.
Minat Safe Haven Mulai Berkurang
Tekanan tambahan juga datang dari menurunnya permintaan terhadap aset safe haven. Membaiknya sentimen terhadap ekonomi Amerika Serikat membuat sebagian investor mulai mengalihkan dana ke aset yang dinilai memiliki potensi keuntungan lebih besar.
Ketika optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat, minat terhadap instrumen lindung nilai seperti emas biasanya cenderung berkurang. Akibatnya, aliran dana yang sebelumnya masuk ke pasar emas mulai beralih ke instrumen investasi lain.
Kondisi tersebut membuat tekanan jual terhadap emas masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Prospek Emas Masih Bearish
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas masih cenderung bearish dalam jangka menengah. Selama belum ada katalis positif yang mampu mengubah sentimen pasar, kombinasi antara kuatnya dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi, dan struktur teknikal yang masih menunjukkan tren turun berpotensi mendorong XAU/USD melemah menuju area support USD4.096 hingga USD3.884 per troy ons.
Pelaku pasar disarankan untuk terus mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve, serta dinamika pasar global yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas dalam beberapa pekan mendatang.
