Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah untuk menekan lonjakan harga minyak mentah yang dipicu konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Mengutip Investing.com, Rabu (11/3/2026), harga minyak Brent berjangka sebagai patokan internasional turun 23 sen atau 0,26 persen menjadi USD87,57 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan pasar domestik Amerika Serikat turun 37 sen atau 0,44 persen menjadi USD83,08 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah muncul rencana pelepasan cadangan minyak darurat guna menstabilkan pasar energi global yang sempat bergejolak akibat konflik di Timur Tengah.
Serangan AS dan Israel ke Iran Meningkat
Di tengah dinamika pasar energi, Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Selasa. Pentagon dan pihak Iran menyebut serangan tersebut sebagai salah satu yang paling intens selama konflik berlangsung.
Komando Pusat Amerika Serikat juga menyatakan militer AS telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran di sekitar Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa ranjau apa pun yang dipasang Iran di Selat Hormuz harus segera disingkirkan.
Trump juga menyatakan kesiapan Amerika Serikat untuk mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika situasi keamanan memburuk.
Namun, Angkatan Laut AS sejauh ini menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan militer karena risiko serangan yang dinilai masih terlalu tinggi.
Pasokan Minyak Global Terancam
Sebelumnya pada Senin, harga minyak mentah sempat melonjak hingga mencapai USD119 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022.
Lonjakan tersebut mendorong para pejabat negara anggota G7 untuk segera menggelar pertemuan guna membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat demi meredam gejolak pasar.
Perang yang terjadi di Iran juga berdampak pada berkurangnya pasokan minyak dan produk energi dari kawasan Teluk ke pasar global.
Diperkirakan sekitar 15 juta barel minyak per hari terdampak oleh konflik tersebut. Menurut perusahaan riset dan konsultasi energi Wood Mackenzie, kondisi ini berpotensi mendorong harga minyak mentah melonjak hingga USD150 per barel apabila gangguan pasokan terus berlanjut.
Dikutip dari metrotvnews.com
