Jakarta: Presiden Prabowo Subianto telah memberikan, penghargaan Gelar Tanda Jasa Pahlawan kepada Presiden Ke-2 RI, Soeharto. Penerimaan gelar pahlawan nasional ini, diterima langsung oleh Bambang Trihatmodjo dan Siti Hardijanti Hastuti Rukmana (Tutut Soeharto).
Ada momentum menarik saat penerimaan penghargaan tersebut terjadi di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025) kemarin. Karena, Tutut dihampiri oleh Titiek Soeharto untuk melakukan Tradisi Jenggung.
Pemandangan tersebut terekam indah oleh kamera televisi sehingga mengingatkan kembali tradisi lama yang dilakukan oleh keluarga Soeharto. Tradisi ini disebut Jenggung, perlakukan memukul kepala halus dengan kepalan tangan bagian bawah.
Lantas, apa makna tradisi tersebut, mengapa Tradisi Jenggung begitu melekat di dalam keluarga Soeharto? Melansir dari situs X/Twitter resmi Tutur Soeharto, berikut adalah penjelasannya.
Tradisi Jenggung bukan ritual formal atau tradisi publik kenegaraan yang dilakukan oleh Soeharto. Melainkan sebuah tradisi kasih sayang di lingkungan internal keluarga Soeharto.
Tradisi ini lebih tepat digambarkan sebagai kebiasaan pribadi atau ekspresi keakraban dalam keluarga Soeharto. Bukan tradisi budaya Jawa umum yang luas atau ritual khusus yang terkait dengan masa jabatannya sebagai presiden.
Menariknya tradisi keluarga Soeharto ini pernah diterapkan kepada Presiden Prabowo Subianto saat masih menjadi seorang tentara. Presiden Prabowo bercerita jika pada saat itu kehidupan Soeharto sangatlah disiplin.
Hal itu dibuktikan dengan Soeharto memiliki jadwal keseharian yang sangat jelas dan terstruktur. “Rutinitas kerja Soeharto sangat teratur, bangun pukul 04.30 pagi dan tiba di kantor pada pukul 08.00,” katanya mengutip buku ‘Kepemimpinan Militer-Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto’ yang terbit tahun 2021.
Satu cerita berkesan yang dibagikan Prabowo adalah saat ia hendak berangkat tugas ke Timor Timur sebagai Komandan Batalyon 328. Sebelum berangkat, sekitar pukul 20.30 malam, Presiden rabowo dipanggil oleh Soeharto di Cendana.
Semua anggota batalyon Prabowo merasa gembira karena itu berarti mereka akan mendapat makanan tambahan (sangu). Meskipun pertemuan tersebut hanya berlangsung kurang dari lima menit, Soeharto memberikan pesan singkat namun dalam kepada Prabowo.
“Ojo lali, ojo dumeh, ojo ngoyo. (Jangan lupa, jangan sombong, jangan memaksakan diri kalau tak mampu),” ujarnya.
Kemudian, Soeharto memegang kepala Prabowo dan meletakkan kepalan tangannya secara halus. Hal ini biasa ia lakukan kepada anak-anak dan cucunya. Dikutip dari RRI.co.id
