Emas Dunia Menguat, Akhiri Tren Penurunan Dua Pekan Berturut-turut

Emas Dunia Menguat, Akhiri Tren Penurunan Dua Pekan Berturut-turut

Harga emas dunia ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat, sekaligus mengakhiri tren pelemahan yang berlangsung selama dua pekan berturut-turut. Penguatan tersebut didorong aksi beli teknis di sekitar level psikologis USD4.000 per troy ons yang mampu menopang harga di tengah meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak.

Mengutip Investing.com, Sabtu (25/7/2026), harga emas spot naik 0,1 persen menjadi USD4.052,98 per troy ons. Sementara itu, harga emas berjangka juga menguat 0,1 persen ke level USD4.055,25 per troy ons.

Secara mingguan, baik emas spot maupun emas berjangka mencatat kenaikan sekitar 0,9 persen setelah sebelumnya mengalami tekanan selama dua pekan berturut-turut.

Aksi Beli Teknis Topang Pemulihan Harga

Pemulihan harga emas terjadi setelah logam mulia tersebut sempat menyentuh level terendah sejak awal November. Dukungan kuat muncul di area psikologis USD4.000 per troy ons meskipun dolar Amerika Serikat kembali menguat.

Analis Pasar Senior Trade Nation, David Morrison, mengatakan harga emas sempat mencatat reli yang signifikan setelah menyentuh titik terendah dalam delapan bulan.

“Harga emas memulai reli pemulihan pada waktu yang sama minggu lalu setelah jatuh ke level terendah delapan bulan di bawah USD3.960. Pada Rabu sore, harganya telah melampaui USD4.160 dengan kenaikan keseluruhan sebesar USD200 per troy ons atau sekitar lima persen,” ujar Morrison.

Namun, menurutnya, penguatan tersebut tidak mampu dipertahankan karena dolar AS kembali menguat meski data inflasi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan.

“Eskalasi konflik antara AS dan Iran, kenaikan harga minyak, serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut memperkuat dolar dan menekan harga emas,” katanya.

Morrison menilai level dukungan di bawah USD4.000 per troy ons menjadi area penting yang harus dipertahankan apabila emas ingin melanjutkan tren pemulihannya.

“Dukungan telah terbentuk tepat di bawah USD4.000. Level tersebut perlu bertahan, dan emas harus menembus USD4.200 dengan keyakinan yang kuat untuk menghidupkan kembali tren kenaikan setelah koreksi yang berlangsung sejak akhir Januari,” tambahnya.

Pasar Menunggu Keputusan The Fed

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor kini tertuju pada rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang akan digelar pekan depan.

Ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga meningkat seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Berdasarkan data CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang berada di kisaran 62 persen, turun dari sekitar 87 persen pada pekan sebelumnya.

Sebaliknya, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin meningkat menjadi hampir 38 persen dari sebelumnya sekitar 13 persen.

Lonjakan Harga Minyak Jadi Sentimen Utama

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian pelaku pasar. Pada Kamis, harga minyak mentah Brent sempat menembus level USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2026.

Dalam dua pekan terakhir, harga minyak acuan global tersebut telah melonjak lebih dari 25 persen akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Lonjakan harga dipicu klaim serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Insiden tersebut meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz yang menjadi rute utama distribusi minyak dunia.

Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, pergerakan harga emas dalam jangka pendek diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta dinamika harga minyak dunia.